7 Anak Ajaib (Wonderkid) Manchester United yang Gagal Jadi Ajaib

  • Whatsapp
Libero.id


“Ada Dong Fangzhou yang harus operasi plastik agar tidak terus menerus dihina.”

GOAL.MY.ID – Strategi mengembangkan talenta sepakbola sejak dini di dalam sebuah akademi menjadi opsi yang sangat diandalkan oleh klub untuk dapat mengisi tim dengan bakat berkualitas. Talenta muda tersebut dilatih untuk dapat melanjutkan kejayaan klub dari para pemain berbakat pendahulunya.

Seperti halnya Ryan Giggs dan Marcus Rashford yang sangat populer karena kemampuannya yang tajam saat berlaga. Dalam sejarahnya, tim Setan Merah seringkali mengambil talenta baru yang diharapkan berkembang pesat.

Manchester United memang terkenal sukses menghasilkan bakat kelas satu yang menghiasi Liga Premier selama bertahun-tahun.

Namun demikian, tidak semua bakat hebat itu bakal bersinar. Banyak pemain yang pernah diekspektasikan begitu tinggi justru gagal dalam karier sepakbolanya. Mantan bintang muda Darron Gibson, yang pernah digambarkan oleh Sir Alex Ferguson sebagai ‘Scholes baru’ tersebut justru dilepas oleh League Two, Salford.

Jangankan untuk dapat berlaga menjadi tim andalan di Old Trafford. Untuk dapat naik kelas dalam karier sepakbolanya saja sudah sangat sulit.

Selain Gibson, ketujuh bintang sepakbola yang pernah dianggap bakat potensial untuk Manchester United, tetapi mereka justru menjadi pemain yang gagal memenuhi ekspektasi.

1. MADS TIMM

Kredit: manutd.com

Bagi para pemain Championship Manager 2000, mereka akan mengingat penyerang Denmark dengan baik. Dalam permainan itu dia akan menjadi superstar, tetapi dalam kehidupan nyata penyerang Denmark tersebut hanyalah pemain yang sangat biasa-biasa saja.

Dipetik dari tim yunior Odense, ia menandatangani kontrak profesional pada 2002 setelah tampil mengesankan di akademi United.

Namun, dia hampir dipecat oleh Fergie ketika dia menerima hukuman 12 bulan karena mengemudi sembrono. Dia kemudian dilarang mengemudi selama tiga tahun.

Setahun kemudian dia kembali ke Odense untuk memulai kariernya, dan bahkan mendapat panggilan untuk tim nasional.

Pada tahun 2009 ia pensiun dari permainan setelah kehilangan minat untuk kembali bermain.

Dua tahun kemudian dia kembali, kali ini sebagai pemain-pelatih untuk Kerteminde.

2. FEDERICO MACHEDA

Penyerang Italia menuai popularitas dengan cara yang paling spektakuler, mencetak gol kemenangan dengan beberapa detik tersisa dalam kemenangan 3-2 atas Aston Villa pada tahun 2009.

Tapi itu adalah sesuatu yang anti-klimaks untuk Macheda, yang pernah dipuji Fergie sebagai finisher alami terbaik dalam skuad yang juga memiliki pemain seperti Wayne Rooney, Michael Owen dan Dimitar Berbatov.

Karena masalah cedera dan performa buruk, kariernya menurun drastis di Sampdoria, QPR, Stuttgart, Doncaster, Birmingham, Cardiff, dan Nottingham Forest melihatnya tergelincir lebih jauh dari tangga sepakbola.

Titik rendah datang ketika uji coba di tim Serie B Bari gagal memberinya kontrak, dan dia kemudian bergabung dengan Novara Calcio.

Namun, sejak 2018 terdapat peningkatan drastis dari perkembangan karier sepakbola dari seorang Macheda yang berkembang pesat di sepakbola Yunani bersama Panathinaikos.

Dia telah menemukan kembali kenyamanannya di dunia sepakbola, bahkan dia sukses mencetak gol lagi dan mengantongi 33 gol dalam 89 pertandingan liga. Hebatnya, dia baru berusia 29 tahun.

3. DONG FANGZHUO

Pernah ada talenta tiongkok yang pernah sampai di level elit dunia sepakbola.

Dibawa ke Inggris pada tahun 2004 dengan bayaran yang bisa mencapai 3,5 juta pound atau senilai dengan 70 miliar, Fergie menyebutnya sebagai ‘bakat luar biasa’ dan percaya dia memiliki keunggulan dalam ‘kecepatan dan fisik’ untuk menjadi pemain yang andal di Liga Premier.

Karena dia tidak bisa mendapatkan izin kerja, Fangzhou pergi ke klub feeder United Royal Antwerp dan menjadi pemain asing di Belgia.

Namun ketika akhirnya mendapat visa untuk bermain di Inggris, bahasa ternyata menjadi kendala besar.

Masalahpun kembali membesar, ditambah dengan rasa malu yang melumpuhkan Dong, membuatnya tidak mungkin berhasil di Theatre of Dreams.

Pada 2008 kontraknya di Man Utd diputus dan dia gagal memenuhi janjinya saat kembali bermain di China.

Baru-baru ini, kejatuhan Fangzhuo dari kejayaan tampak ketika ia muncul di serial TV Tiongkok setelah menjalani operasi plastik di wajahnya. Dia tampak kelebihan berat badan setelah bertahun-tahun berpesta dengan minuman keras. Operasi plastik dilakukan agar dia tak dihina.

4. RODRIGO POSSEBON

Seorang pria yang lahir dengan kemampuan andal sebagai seorang pesepakbola kelas elit, tapi sayangnya dia menghilang dalam ketidakjelasan.

Dalam pertandingan melawan Middlesbrough di ajang Piala Liga ia mengalami cedera parah setelah tekel keras yang dilakukan oleh Emanuel Pogatetz yang hampir mematahkan kakinya.

Dia absen selama beberapa bulan dan tidak pernah benar-benar mendapatkan momentum untuk mendorong dirinya mendapat tempat di tim utama, hanya membuat tiga penampilan dalam karier singkatnya bersama tim raksasa Liga Premier, Manchester United.

Dia pergi ke Braga dengan status pinjaman sebelum kembali ke Brasil bersama Santos, tetapi dia juga mengalami kegagalan bahkan di awal masa debutnya.

Possebon, yang berusia 32 tahun, terakhir terlihat bermain sepak bola di Vietnam untuk Kota Ho Chi Minh, sebelum mereka mengakhiri kontraknya karena gagal memenuhi target di tim.

5. ANGELO HENRIQUEZ

Libero.id

Kredit: instagram.com/anriquez9

Penyerang Chili yang sangat dihargai oleh Manchester United sehingga dia dikontrak saat masih berusia 15 tahun dengan biaya yang diyakini berada di nilai 4 juta pound pada tahun 2009 nilai setara dengan 80 miliar, sebuah angka yang fantastis untuk anak berusia 15 tahun.

Dia menghabiskan beberapa musim berikutnya di Universidad de Chile, di mana dia menunjukkan kehebatannya dengan sukses mencetak 11 gol dalam 17 pertandingan.

Henriquez tiba di Manchester pada tahun 2012 dengan banyak keriuhan.

Menyadari jalannya ke tim utama diblokir, hierarki United meminjamkan “Marcelo Salas Baru” itu ke Wigan setahun kemudian.

Dia mencetak gol pada debutnya di Liga Premier, dan mengakhiri musim dengan medali pemenang Piala FA.

Setahun kemudian dia bermain untuk Real Zaragoza di divisi dua Spanyol.

Itu tidak berjalan dengan baik, tetapi Henriquez menemukan kembali karier sepakbolanya saat bermain dengan status pinjaman di Kroasia untuk Dinamo Zagreb pada 2014 ketika dia mencetak 30 gol dalam 37 pertandingan di semua kompetisi.

6. DAVID BELLION

Libero.id

Kredit: manutd.com

Sebenarnya, Sunderland sangat berekspektasi besar saat membawa Bellion ke tim pada tahun 2001 ketika dia masih remaja setelah dia membintangi tim yunior Cannes.

Tapi United mengambil Bellion ketika dia berusia 20 tahun dengan keyakinan mereka bisa menjadikannya Thierry Henry berikutnya.

Aset terbesarnya adalah kecepatannya, jadi tidak mengherankan jika ia memenangkan Kejuaraan Pemuda Indoor Nasional lari jarak 60 meter pada tahun 2001.

Namun, di lapangan sepak bola itu tidak sesuai dengan rencana untuk striker dengan kemampuan kecepatan secepat kilat tersebut.

Kurangnya performa terbaik membuat Bellion memulai masa pinjaman di West Ham dan Nice, sebelum dia kembali ke Prancis.

Bordeaux melihat tahun-tahun terbaiknya dari 2007-14, di mana dia mencetak 20 gol dalam 114 pertandingan.

Dia mengakhiri kariernya di klub liga bawah Prancis Red Star sebelum pensiun pada 2016.

7. BEN THORNLEY

Lebih banyak kasus kemalangan daripada bakat.

Thornley adalah salah satu Fledglings Fergie, dan disebut-sebut sebagai yang terbaik dari generasi yang mencakup Ryan Giggs dan David Beckham.

Pemain sayap kiri yang cepat dan licik, Thornley membantu United memenangkan FA Youth Cup pada tahun 1992 dan merupakan pemain bintang di tim tersebut.

Fergie berharap dia menjadi pemain reguler tim utama, dan memperkenalkannya ke timnya sebagai pemain pengganti dalam pertandingan di West Ham pada tahun 1994.

Namun, dua bulan kemudian tekel buruk Nicky Marker dalam pertandingan saat melawan Blackburn membuat lututnya hancur berkeping-keping.

Setelah menghabiskan satu tahun keluar dari permainan, dia tidak pernah kembali dengan gaya yang sama, kecepatan dan kepercayaan dirinya sangat terpengaruh, sampai ahirnya kariernya harus turun ke liga yang lebih rendah bersama oHuddersfield, Bury dan Halifax.

Thornley sekarang bekerja sebagai komentator di MUTV dan merilis otobiografinya yang brilian tahun lalu.



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *