Kisah Raheem Sterling dari Kambing Hitam Jadi Ikon Inggris

  • Whatsapp
England


“Kini semua orang yang pernah menghujatnya terdiam seribu bahasa”

GOAL.MY.ID – Pemain andalan timnas Inggris, Raheem Sterling tidak pernah mengenal ayahnya, tetapi ia tidak pernah merasa adanya kekurangan rasa kasih sayang orang tua. Dia menyebut ibunya, Nadine, sebagai faktor terpenting dalam karier sepakbolanya.

Nadine-lah yang membawanya ke Inggris, mendirikan rumah di Neasden, London barat ketika dia berusia lima tahun.

Sterling menghabiskan waktu di Vernon House, sebuah sekolah khusus dimana para guru berusaha membantu masalah perilakunya.

“Saya hanya tidak suka mendengarkan siapa pun kecuali ibu saya. Itu masalah saya” ujar Sterling kepada Players’ Tribune.

“Jika Anda melanjutkan jalan Anda, pada saat Anda berusia 17 tahun, Anda akan bermain untuk Inggris atau Anda akan berada di penjara,” ujar gurunya, Chris Beschi kepada Sterling yang berusia 10 tahun.

Beschi benar, pada 14 November 2012, Sterling membuat penampilan senior pertamanya di Inggris.

“Jika ada orang yang pantas untuk bahagia, itu adalah ibuku. Dia datang ke negara ini tanpa membawa apa-apa. Dan sekarang dia adalah direktur panti jompo. Dan putranya bermain untuk Inggris.”

Awal kesuksesan Sterling
Pada saat debutnya di Inggris, Sterling memiliki reputasi sebagai penyerang yang cepat matang dan berbakat. Dia sudah menjadi pemain termuda ketiga yang mewakili Liverpool, dan pemain termuda kedua yang mencetak gol untuk mereka dalam pertandingan kompetitif.

Selain itu, dia segera menjadi salah satu pemain terpenting klub dan pada musim 2013/2014, dia menjadi tandem yang menakutkan bersama Luis Suarez dan Daniel Sturridge.

Saat Sterling bermain di Liga Champions secara reguler, ia memenangkan penghargaan Golden Boy bergengsi Eropa, sebuah kehormatan yang diberikan oleh wartawan pada pemain yang dianggap sebagai pemain muda terbaik di benua itu.

Tetapi di samping kesuksesan itu, datang sesuatu yang menyeramkan, sesuatu yang telah melekat sepanjang karirnya, yaitu rasisme.

Menjadi pemain Inggris termahal
Pada Juli 2015, datanglah titik balik bagi Sterling. Di usianya yang baru 20 tahun, ia menjadi pemain Inggris termahal dalam sejarah. Itu terjadi ketika Manchester City memboyongnya dari Anfield seharga 49 juta Pound (Rp 985 miliar) dengan kontrak lima tahun. 

Bos Man City saat itu, Manuel Pellegrini menggambarkan Sterling sebagai salah satu pemain penyerang terbaik di dunia. Di balik transfer mahal itu, fans Liverpool menilai bahwa Sterling terlalu berorientasi pada uang. Hal itu karena Liverpool sebenarnya sudah menawarkan kontrak baru, namun ia lebih memilih bergabung dengan City yang memberikan gaji lebih banyak.

Sterling merespon dengan mengatakan, “Saya tidak ingin dianggap sebagai perampas uang, saya hanya ingin dilihat sebagai anak yang ingin bermain sepakbola.”

Rasisme yang dialami Sterling
Di hari ulang tahunnya yang ke-24, Sterling mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan saat City bertandang ke Stamford Bridge.

Saat City mendapatkan kesempatan sepak pojok, Sterling yang akan mengambil tendangan itu mendapatkan olok-olok dari fans The Blues. Oleh seorang fans kulit putih, ia melontarkan caci maki ke arah Sterling dan itu menjadi gambaran yang jelas bahkan sampai sekarang jika rasisme di Inggris masih ada.

Polisi menyelidiki tuduhan dalam pertandingan melawan Chelsea itu, tetapi Layanan Pengaduan Inggris mengatakan bahwa hal itu tidak cukup bukti untuk tuduhan kriminal. Chelsea melakukan penyelidikan mereka sendiri, dan para ahli yang membaca bibir suporter itu menyimpulkan bahwa pelecehan itu berbau rasis. Penggemar Chelsea itu akhirnya dilarang menonton langsung di Stamford Bridge seumur hidup.

Selain itu, Sterling juga menyoroti media yang memberi pemberitaan berbeda saat pemain muda City naik ke surat kabar. Dua pemain tersebut adalah Phil Foden dan Adarabioyo yang menurut Sterling mendapatkan perlakuan berbeda.

Adarabioyo seorang pemain kulit hitam, diberitakan dengan judul, “Pesepakbola muda Manchester City, 20, dengan £ 25.000 baru seminggu nilai pasarnya menjadi £ 2,25 juta meskipun belum pernah memulai pertandingan Liga Premier”.

Sementara judul artikel tentang Phil Foden yang seorang pemain kulit putih, mengatakan: “Pemain muda Manchester City Phil Foden membeli rumah baru seharga £2 juta untuk ibunya.”

Sterling menyebut perbedaan perlakuan GOAL.MY.ID Foden dan Adarabioyo tidak dapat diterima.

Pada Maret 2019, Inggris melawan Montenegro dalam kualifikasi Euro 2020.  Sepanjang pertandingan, fans Montenegro meneriakkan kata-kata rasis kepada pemain berusia 26 tahun tersebut dan pada menit ke-81, saat Sterling mencetak gol kelima ia mendapat lebih banyak hujatan dari tribun. Dia merayakannya dengan menangkupkan tangan ke telinganya, yang kemudian dia katakan sebagai tanggapan langsung terhadap para pelaku rasisme.

Dia meminta otoritas sepak bola untuk mengambil sikap dengan tepat.

“Hukumannya harus, apa pun negaranya, jika penggemar Anda meneriakkan pelecehan rasis maka itu harus seluruh stadion sehingga tidak ada yang bisa datang dan menonton,” katanya kepada BBC Radio 5 Live.

“Ketika larangan dicabut, para penggemar akan berpikir dua kali. Mereka semua mencintai sepakbola, mereka semua ingin datang dan menonton negara mereka sehingga itu akan membuat mereka berpikir dua kali sebelum melakukan hal konyol seperti itu.”

Pada tahun 2021, banyak atlet yang berbicara tentang rasisme dan memprotes ketidakadilan rasial adalah norma. Hingga pada musim panas 2020, seluruh dunia bergabung menyusul pembunuhan pria kulit hitam tak bersenjata bernama George Floyd oleh seorang petugas polisi kulit putih di Minneapolis.

Semua orang di negara ini membutuhkan “kesempatan yang sama”, katanya, tanpa memandang etnis.

“Ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan orang-orang lelah dan orang-orang siap untuk perubahan. Tapi ini adalah sesuatu yang perlu lebih dari sekadar berbicara. Kita harus benar-benar menerapkan perubahan dan menyoroti tempat-tempat yang memang membutuhkan perubahan.”

Dan pada tahun 2020 sejak pesepakbola mulai berlutut, Sterling juga menjadi aktor penting dalam gerakan itu.

Pada tahun 2021, Sterling ditunjuk sebagai Anggota Ordo Kerajaan Inggris (MBE) untuk layanan kesetaraan ras dalam olahraga.

Ketika ditanya dalam wawancara ITV tentang apakah dia akan terus memastikan bahwa segala sesuatunya berubah, Sterling berkata, “Ini bukan sesuatu yang sepele lagi. Saya hanya merasa ketika menyangkut pelecehan rasis, itu tidak dianggap serius.”

“Dia melakukannya karena dia sudah mengalami itu, dia tahu bagaimana rasanya dan dia ingin mencoba dan membuat perubahan dengan cara yang positif”, Kapten Liverpool Jordan Henderson.

Gebrakan Sterling
Di tengah semua pelecehan, fitnah, dan hal negatif, Sterling  mengesampingkan semua itu saat berada di lapangan.

Pada musim 2017/2018, ia memainkan peran penting dalam kemenangan gelar Manchester City saat mereka menjadi tim pertama yang mencatatkan 100 poin dalam satu musim Liga Premier. Itu adalah yang pertama dari tiga gelar liga yang dia menangkan bersama City.

Musim berikutnya, ia berperan penting dalam treble domestik, saat tim Pep Guardiola memenangkan Liga Premier, Piala FA, dan Piala Carabao. Pemain berusia 24 tahun itu juga memenangkan penghargaan PFA Young Player of the Year, serta penghargaan Footballer of the Year dari Asosiasi Penulis Sepak Bola.

Di bawah bimbingan manajer Guardiola, ia mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain penyerang top Eropa. Dia telah mencetak lebih dari 100 gol selama empat musim bermain di Liga Premier.

Dengan potensi itu Sterling masih layak menjadi pemain jempolan dalam satu dekade ke depan. Produktifitas golnya menempatkannya masuk dalam 32 pemain pencetak gol terbanyak Liga Inggris sepanjang masa.

Tetapi melalui semua itu, selalu ada perasaan bahwa dia tidak dihargai di tingkat internasional seperti halnya oleh para pendukung klubnya. Sterling telah menjadi andalan bagi tim nasional sejak debut internasionalnya sembilan tahun lalu, tetapi popularitasnya tidak selalu tercermin di tribun.

Karirnya di Inggris dapat dibagi menjadi dua bagian yang sangat kontras.

Sterling mencetak dua gol dalam 45 penampilan pertamanya hingga Oktober 2018. Sejak itu, ia telah mencetak 15 gol dalam 22 penampilan, di mana ia telah menjadi kapten tim dua kali.

“Kamu tumbuh dewasa dan tidak berhenti mencari orang untuk memberimu validasi. Itu harus datang dari dalam” kata Sterling.

Sterling terlibat dalam 15 dari 37 gol Inggris dalam kualifikasi Euro 2020. Namun, setelah musim yang relatif mengecewakan di level klub ketika ia harus absen dalam beberapa pertandingan penting, kini ia mendapatkan tempatnya lagi bersama timnas Inggris.

Kurang dari sebulan, dia berhasil mengembalikan performa terbaiknya. Gol-golnya di ajang Euro 2020 memperkuat sinya bahwa ia adalah pemain penting The Three Lions, terlebih saat Inggris mengalahkan Denmark di semi-final. Dialah yang membuat terjadinya penalti, meskipun keputusan tersebut sedikit kontroversi.

Sekarang, saat final Kejuaraan Eropa dengan Italia menanti, Sterling memiliki sejarah dalam genggamannya. Dia memiliki alasan kuat untuk dianggap sebagai pemain terbaik di turnamen, suatu prestasi yang akan diingat dari generasi ke generasi ketika Inggris bertujuan untuk mengakhiri penantian 55 tahun untuk trofi utama.

Dia telah dibantu oleh “Wembley magic”, dan telah berbicara tentang bagaimana “dukungan dan energi dari semua penggemar luar biasa baik di Wembley, dan dari semua orang yang menonton di rumah”.

(diaz alvioriki/muf)



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *