UEFA Kapok! Format Euro 2020 Tidak Digunakan Lagi, Boros Biaya dan Kurang Adil

  • Whatsapp
England


“Idenya dari Michel Platini saat jadi bos UEFA. Ternyata, banyak masalahnya. Apa saja itu?”

GOAL.MY.ID – Penyelenggaraan Euro 2020 yang memunculkan banyak kritik membuat UEFA kapok. Otoritas sepakbola tertinggi di Benua Biru memastikan tidak akan menggunakan format yang sama di masa depan. Apa alasannya? 

Sejak kick-off di Stadio Olimpico, Roma, pada 11 Juni 2021, Euro 2020 kini sudah menginjakkan kaki di pertandingan final. Mayoritas pertandingan berjalan lancar, tanpa ada kejadian yang mencedarai sportivitas. Tidak ada kerusuhan. Begitu pula perkelahian massal di lapangan. 

Kontroversi juga relatif bisa diredam, meski keputusan wasit di pertandingan semifinal yang mempertemukan Inggris dengan Denmark menuai cibiran banyak orang karena dinilai kurang jeli.

Terlepas dari hal itu, secara umum penyelenggaraan turnamen sepakbola antarnegara paling bergengsi di Eropa itu sukses. Ditengah kekhawatiran penyebaran Covid-19 plus pembatasan perjalanan yang muncul di sejumlah negara, UEFA ternyata sanggup menyelenggarakan turnamen hingga final. 

Meski mengaku sukses, ternyata UEFA kapok dengan format Euro 2020, yang diselenggarakan di banyak negara. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, bahkan mengakui format gagasan Michel Platini tersebut tak adil bagi sebagian kontestan dan suporternya.

Dengan 11 negara berbeda yang melaksanakan, yaitu Inggris, Italia, Azerbaijan, Rusia, Spanyol, Rumania, Belanda, Skotlandia, Denmark, Hungaria, dan Jerman, ada beberapa tim yang merasa menjadi anak tiri. Pasalnya, mereka harus berpindah dari satu negara ke negara lain untuk berlaga.

Tapi, ternyata tidak semua negara melakukannya. Ada negara yang bermain tiga pertandingan fase grup di kandang. Ada pula yang baru main di negara lain satu kali di fase knock-out. Terdapat juga tim yang harus selalu berpindah dari satu negara ke negara lain.

Swiss contohnya. Mereka jadi negara yang menempuh jarak perjalanan paling jauh di turnamen tahun ini dengan 15.486 km. Ini terjadi karena Swiss harus berlaga di empat negara berbeda, yaitu Italia, Azerbaijan, Rumania, dan Rusia sebelum tersingkir di perempat final.

Hal yang kurang lebih sama didapatkan Belgia. The Red Devils harus bolak-balik Saint-Petersburg, Brussels, Copenhagen di fase grup. Kemudian, terbang ke Sevilla untuk babak 16 besar dan berakhir di Muenchen untuk perempat final dengan kekalahan dari Italia.

Sebaliknya, ada negara dengan jarak perjalanan terpendek. Sebut saja Skotlandia, yang hanya menempuh 1.108 km. The Tartan Army hanya memainkan laga di Hampden Park dan Wembley.

Menurut Caferin, format Euro 2020 sangat menyulitkan dan tak adil untuk beberapa negara serta para pendukungnya.  “Saya tidak akan mendukungnya lagi. Dalam penerapan, ini tidak tepat karena ada beberapa tim yang harus melakukan perjalanan lebih dari 10.000 km. Sementara yang lain hanya menempuh 1.000 km,” kata pria asal Slovenia itu, dilansir BBC Sport.

“Ini juga tidak adil bagi para pendukung yang harus berada di Roma (Italia) dan kemudian berpindah ke Baku (Azerbaijan) beberapa hari kemudian. Itu penerbangan 4,5 jam dengan regulasi, yurisdiksi, mata uang yang berbeda. Ada yang anggota Uni Eropa. Ada juga yang bukan. Jadi, itu tidak mudah,” beber Caferin.

Ceferin juga menyatakan tidak bisa mengubah format Euro 2020 begitu saja. Pasalnya, hal tersebut sudah diputuskan sebelum dirinya menjadi Presiden UEFA. Ceferin baru diangkat menjadi Presiden UEFA pada 2019 dengan masa jabatan hingga 2023.

“Itu adalah format yang diputuskan sebelum saya datang (menjadi Presiden UEFA) dan saya menghormatinya. Ini adalah ide yang menarik, meski sangat sulit diterapkan. Saya tidak berpikir kami akan menerapkannya lagi,” ujar Caferin.

Ide menggelar Euro 2020 di banyak negara diumumkan Platini saat menggelar sesi konferensi pers di Donbass Arena, Donetsk, pada salah satu pertandingan Euro 2012 di Polandia-Ukraina. Saat itu, Legenda Prancis tersebut menggunakan alasan nostalgia dan untuk merayakan Euro 2020 secara bersama-sama di seluruh Eropa.

(andri ananto/anda)



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *